Sirkumsisi
Selasa, 23 Februari 2010 | 3dhanerz
Assalamualaikum...
Erien was here !!! seorang anggota Edhanerz ipa E 09 yang baru ja nyelesekan semester 1 di FK Unair, pend.Dokter, (narsisme almamater. hehee... ;) ).
yogie bilang, blog ini buat tempat cerita juga kan?
oke, rien mulai, rien punya cerita seru selama liburan kemaren
tentunya di samping cerita seru menghabiskan waktu bersama kalian, EDHANERZ. Kalo dygta punya lagu "pecundang sejati", kalian adalah Orang Edhan sejati. hehe^^
Liburan kemarin, rien dapet job, bantuin sirkumsisi massal, ato lebih kerennya, sunatan massal. 'pembantaian' titit secara massal ini diadakan ma bupati kita tercinta loh, yang terhormat bapak Kholilur Rahman (bener gak c namanya? pokoknya ma ki Kholil). Keren gak? hehee... naa...sirkum yang rien ikuti untuk pertama kali ntu di daerah rumah Juznia, larangan badung. Pengalaman yang seru ntu mulai dari awal acara.
Semua peralatan udah disiapkan, mulai dari spuit (suntikan)+needle, obat bius, klem, stackholder, jarum jahit, benang buat jahit, kasa, kain duk, antiseptik, alkohol, juga gunting. Rien dapet rekan, namanya mz Edi. Enaknya nih, dia pake alat yang bentuknya kayak lem tembak punya nindi tapi ujungnya ntu besi panas. Kalo sirkum pake ini, darah yang keluar bisa minimal loh, bahkan jarang banget terjadi 'bleeding' alias pendarahan.
sirkum pun dimulai. Rien gak mau liat awalnya. Wajah takut+gak tega lihat adek-adek itu nangis keliatan banget. Trus ada yang nyeletuk, "aduh, mb' dokternya takut" hiyaaah...malunya... well, buat jaga image, rien akhirnya berani juga deketin 'korban' pertama rien ma mz Edi.
Korban ke-2, ke-3, dst...sama ja, nangis.
jerit-jerit.
Yang kemudian terjadi entah pasien ke berapa, saat mz Edi udah injeksi dan rien pegang2 tititnya itu, supaya biusnya merata, eh tiba...
"cuuur..."
yep. temen2 bener, mereka pipis.
huuuftt... ;(
sebelum praktek langsung kayak tadi itu,sebenenya rien pernah belajar teori sirkumnya. Yaitu saat sebelum UAS kakak kelas ngadain diklat sirkum ma bedah minor di kampus. Saat itu gak terpikirkan ma Erien, akan ada kejadian pasien pipis saat disirkum. pengalaman yang menarik.
Benar-benar MENARIK.
Temen-temen tau gak, ada pasien sirkum saat itu yang umurnya baru 40 hari loh! gak usah berdecak kagum, kasian harusnya. Dia kehabisan tenaga kan buat nangis... haaa... T.T Ada juga pasien yang saat mau dijahit lukanya, eh, dia malah tidur... gak sakit emang, kan dah dibius..
Pengalaman kedua, rien sirkum di daerah Proppo. Rien merasa excitednya karena ini daerah pedalaman. Daerah dimana halaman rumahnya bukan paving kayak di kota, tapi masi berupa tanah, merah. Daerah dimana sebelah kirinya itu kelihatan bukit dan sawah dan kanannya perumahan penduduk. Daerah dimana masih banyak ulama-ulama desa bersorban kotak-kotak merah putih. Waah... serasa dah jadi dokter gitu. Ihhiiiiy... Kalo cerita pasien? ada.
Pasien ini, sepertinya punya cita-cita jadi gubernur bank Indonesia deh. Kenapa? Saat dia jerit-jerit kesakitan, tau apa yang dia minta?
"Eboooo'...sakeee' booo'... enje', enje', minta pessenah engkooo'!!!" (artinya >> Mamiiiii....sakit miii... tidaaaak...tidaaak... minta duit akuuuu").
waktu itu, omnya yang gak ikutan nyekap dia, ngasi duit 5 RIBU RUPIAH. maksudnya c, biar gak nangis ge. eh, dia genggam erat-erat uang itu dengan tangan kirinya yang masi dipiting dibantu oleh giginya yang seputih senyum pepsodent. Uangnya, DIGIGIT sampe' robek. Yang gak rela adalah erien. "Yaaah... adek...uangnya kok disobek...emaan... huwaaaa" oke,oke, teriakan terakhir cuma improve kok.
Daerah ketiga, Tobungan, Galis. Rumahnya mz Ainul.
Yang disini agak menyebalkan.
Ada pasien yang waktu itu dianter bapaknya. Awalnya sih gak ada masalah, seperti biasa, nangis, jerit-jerit. tapi yang ini ditambah dengan gerakan erotis, I mean >> AGLUBUK (bahasa indonya apa c? pokoknya berontak gitu...). Naa... suasana ini semakin diperparah dengan bapaknya yang gak tega buat nyekap anaknya. Mungkin lebih tepatnya gak sabaran. Hmm...gini, rien pake bahasa 'disekap', 'dipiting' soalnya gak tau bahasa yang tepat untuk menggambarkan keadaan lutut dan siku mereka di tahan biar gak bergerak banyak.
kembali ke bapak gak sabaran (BGS) tadi. Bapak yang terhormat itu, terus saja mengeluh, menggerutu, "Aduh, ce' abiddha, ck." (Artinya >> aduh, lama banget sih!). Setelah preputiumnya (-nya disini adalah kata ganti anak BGS tadi, bukan BGS, harap diperhatikan.) dipotong, eh, BGS malah cepet2 mau bawa kabur anaknya. Padahal masi ada tahap penjahitan. Sedikit emosi, mz Edi nahan BGS itu untuk tidak pergi, sambil nyanyi lagunya d'masiv "kembalilaaah....wahai sayangku...aku takkan pernah bisa hidup tanpamu. "
ya, ya, bercanda teman.
Keukeuh dengan gerakan erotisnya, bikin kita, tim medis (uhuy) kesusahan buat kerja cepet. Apalagi kita dapet perlakuan tidak menyenangkan dari BGS itu. Dia? tetap menggerutu sambil terus berusaha mau bawa kabur anaknya. akibatnya, dia cuma dapat 2 jahitan dari yang seharusnya minimal 4 jahitan. Setelah itu, BGS tadi sempat mengumpat "P*te' jih, ce' abiddha!" (tidak disertakan artinya, terlalu kasar). Uuuh...tau gitu anak ntu gak ta' sunnat yah! uh, uh!
Daerah terakhir, tadi pagi, 23 Februari 2010, Dasok.
Disini kita kekurangan tim medis. Pihak panitia bilang semalam sebelumnya, yang mendaftar untuk disirkum 22 orang. PAs nyampe di lokasi tadi pagi, koordinator tim medis nanya, ternyata ada 40 orang. Karena hari kerja, tim medis cuma bisa manggil 2 orang lagi untuk bantu. tapi, gak papa, tetap selese kok.
Tadi rien sempet ngebentak seorang pasien. Umurnya udah 7 tahun, dah SD, artinya dia paham betul kalo disunat itu sakit. Gerakan erotisnya sungguh tidak tertahankan. Bikin rien...hmm... bikin rien...gak enak nih ngomongnya,
E.M.O.S.I
Emosi rien memuncak, karena gara-gara dia aglubuk, tititnya pendarahan. banyak. meski gitu, dia tetep aja joget2 kayak orang kesurupan. Akhirnya...
"HEH! DIEM!"
masih dengan tampak galak, rien ceramah mbil nunjukin kasa yang udah merah gara2 darahnya,
"Ini kalo kamu gak diem! Diem!"
HAsilnya?
tetap aja nangis+joget2. T.T
Well... semua itu memberi rien pengalaman yang 'subhanallah sekali'.
Cerita lainnya akan berlanjut di lain kesempatan.
Miss U Edhanerz!
Sukses yah di tempat perantauan masing2^^
Amiiin.
Tags: dr.Rin/15 | 2 komentar
Mengapa Islam Menolak Valentine?
Sabtu, 13 Februari 2010 | 3dhanerz
“Valentine” menjadi istilah yang akrab dan populer disebutkan untuk momentum 14 Februari. Momentum ini menyimpan nilai tersendiri bagi mereka yang merayakannya. Sehingga tak jarang 14 Februari diaktualisasikan sebagai sebuah perayaan khusus disetiap tahunnya. Dimulai dengan mengemas sebuah kado istimewa, melayangkan ucapan “happy Valentine”, hingga mengadakan perayaan besar bak sebuah resepsi pernikahan. Hal ini dinilai wajar untuk sebuah momentum yang “diistimewakan”.
Namun demikian, kewajaran perayaan Valentine menjadi polemik, bahkan mengundang perbincangan hangat, saat Islam turut ambil bagian untuk mengistimewakan perayaan ini. Valentine yang diyakini sebagai budaya yang lahir dari agama Kristen telah melibatkan sebahagian besar remaja Islam untuk merayakannya. Hal ini dinilai salah sehingga melahirkan klaim “haram” bagi umat Islam yang merayakannya.
Ironisnya, fatwa “haram” untuk perayaan Valentine bagi umat Islam, tidak malah menjadikan pemeluk Islam (khususnya remaja) meninggalkan budaya perayaan Valentine ini, akan tetapi sebaliknya, perayaan tersebut justru mendarah daging dan “membumi” dalam masyarakat Islam pada umumnya. Apakah dikarenakan doktrin tersebut merupakan sebuah “ijtihad” baru yang kurang memiliki kejelasan hukum sebagaimana persoalan kehidupan lainnya, jelasnya fatwa “haram” terhadap perayaan Valentine agaknya kurang memiliki “makna generik” yang pada akhirnya menjadikan fatwa tersebut kurang diindahkan.
Kesamaran Sejarah Valentine
Berbeda dengan hari besar lain semisal 25 Desember sebagai hari natal, atau 12 Rabiul Awal yang merupakan hari kelahiran Muhammad SAW, 14 Februari sesungguhnya memiliki “kesamaran sejarah” sebagai sebuah hari besar. Kebanyakan orang menyebut hari ini sebagai hari “kasih sayang”, namun tidak ada landasan yang kongkrit dan argumentatif untuk menyanggah kebenarannya.Menurut Ensiklopedi Katolik (Catholic Encyclopaedia 1908), istilah Valentine yang disadur dari nama “Valentinus” paling tidak merujuk pada tiga martir atau santo (orang suci) yang berbeda, yaitu: seorang pastur di Roma, seorang uskup Interamna, dan seorang martir di Provinsi Romawi Africa. Koneksi antara tiga martir ini terhadap perayaan hari kasih sayang tidak memiliki catatan sejarah yang jelas. Bahkan Paus Gelasius II pada tahun 496 M menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada hal yang diketahui dari ketiga martir ini. 14 Februari dirayakan sebagai peringatan santa Valentinus sebagai upaya mengungguli hari raya Lupercalica (dewa kesuburan) yang dirayakan pada tanggal 15 Februari.
Berbeda dengan hari besar lain semisal 25 Desember sebagai hari natal, atau 12 Rabiul Awal yang merupakan hari kelahiran Muhammad SAW, 14 Februari sesungguhnya memiliki “kesamaran sejarah” sebagai sebuah hari besar. Kebanyakan orang menyebut hari ini sebagai hari “kasih sayang”, namun tidak ada landasan yang kongkrit dan argumentatif untuk menyanggah kebenarannya.Menurut Ensiklopedi Katolik (Catholic Encyclopaedia 1908), istilah Valentine yang disadur dari nama “Valentinus” paling tidak merujuk pada tiga martir atau santo (orang suci) yang berbeda, yaitu: seorang pastur di Roma, seorang uskup Interamna, dan seorang martir di Provinsi Romawi Africa. Koneksi antara tiga martir ini terhadap perayaan hari kasih sayang tidak memiliki catatan sejarah yang jelas. Bahkan Paus Gelasius II pada tahun 496 M menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada hal yang diketahui dari ketiga martir ini. 14 Februari dirayakan sebagai peringatan santa Valentinus sebagai upaya mengungguli hari raya Lupercalica (dewa kesuburan) yang dirayakan pada tanggal 15 Februari.Beberapa sumber menyebutkan bahwa jenazah santo Hyppolytus yang diidentifikasi sebagai jenazah santo Valentinus diletakkan kedalam sebuah peti emas dan dikirim ke gereja Whiterfiar Street Carmelite Churc di Dublin Irlandia oleh Paus Gregorius XVI pada tahun 1836. Sejak itu, banyak wisatawan yang berziarah ke gereja ini pada tanggal 14 Februari. Pada tanggal tersebut sebuah misa khusus diadakan dan dipersembahkan kepada para muda-mudi dan mereka yang sedang menjalin hubungan cinta.
Catatan pertama dikaitkannya hari besar santo dengan kasih sayang dimulai sejak abad ke-14 di Inggris dan Prrancis, dimana diyakini bahwa 14 Februari merupakan hari ketika burung mencari pasangan hidupnya. Keyakinan ini ditulis dalam karya sastrawan Inggris abad ke-14 bernama Geoffery Chaucer. Dalam karya tersebut dia menuliskan: “…for this was sent on seynt valentyne’s day,…when every foul cometh ther to chosehis matc (inilah yang dikirim pada hari santo Valentinus,…saat semua burung datang kesana untuk memilih pasangannya)”.
Sumber lain dari sebuah kartu Valentine abad ke-14 yang konon merupakan bagian dari koleksi pernaskahan British Library di London menceritakan beberapa legenda santo Valentinus, diantaranya mencatat bahwa: sore hari sebelum Valentinus gugur sebagai syuhada, ia menulis sebuah pernyataan cinta kecil yang diberikan kepada sipir penjaranya bertuliskan “dari Valentinus”. Konon ketika itu serdadu Romawi dilarang menikah oleh Kaisar Claudius II, santo Valentinus secara rahasia membantu menikahkan mereka. Itu sebabnya pada zaman tersebut para pasangan yang tengah menjalin cinta lazim bertukar catatan dan memanggil pasangannya sebagai “Valentine”.
Aktualisasi Perayaan Valentine
Sekelumit catatan “sejarah samar” latar belakang perayaan Valentine yang dipaparkan diatas sesungguhnya masih belum cukup beralasan untuk mengaitkan 14 Februari dengan hari kasih sayang. Anehnya, sampai hari ini aktualisasi perayaan Valentine semakin tumbuh subur dan berkembang pesat seperti pertumbuhan jamur di musim hujan. Padahal, tanpa disadari perayaan ini telah dihapus dari kalender gereja sejak tahun 1969 sebagai sebuah upaya menghilangkan keyakinan terhadap santo-santa yang asal mula sejarahnya hanya sebatas legenda dan masih perlu dipertanyakan.
Sekelumit catatan “sejarah samar” latar belakang perayaan Valentine yang dipaparkan diatas sesungguhnya masih belum cukup beralasan untuk mengaitkan 14 Februari dengan hari kasih sayang. Anehnya, sampai hari ini aktualisasi perayaan Valentine semakin tumbuh subur dan berkembang pesat seperti pertumbuhan jamur di musim hujan. Padahal, tanpa disadari perayaan ini telah dihapus dari kalender gereja sejak tahun 1969 sebagai sebuah upaya menghilangkan keyakinan terhadap santo-santa yang asal mula sejarahnya hanya sebatas legenda dan masih perlu dipertanyakan.Aktualisasi perayaan Valentine yang semakin subur ini dapat dilihat dibeberapa wilayah dunia yang turut menyisihkan waktu untuk merayakannya. Seperti di Jepang, hari Valentine, berkat marketing besar-besaran, sebagai hari dimana para wanita memberikan pria yang mereka senangi permen coklat. Ini tidak dilakukan secara sukarela, melainkan sebagai sebuah kewajiban, khususnya bagi mereka yang bekerja di Kantor. Dengan sedikit penambahan ciri khas, Thaiwan juga mengaktualisasikan perayaan Valentine semacam ini.Di Prancis perayaan Valentine dimeriahkan dengan pesta kembang api, sementara di Australia para remaja biasa kumpul disepanjang jalan bersama teman-teman dan pasangan mereka untuk merayakan Valentine. Pada saat yang sama, Valentine dikecam oleh orang Melayu di Malaysia. Dan tanpa disadari pula, budaya bertukaran kado Valentine antara sepasang kekaasih pada tanggal 14 Februari mulai muncul di Indonesia.
Islam dan Argumentasi Penolakan Valentine.
Dari berbagai macam warna dan bentuk aktualisasi perayaan Valentine diseluruh penjuru dunia, Islam justru hadir sebagai institusi yang menolak perayaan Valentine tersebut. Arab Saudi misalnya, sebagai wilayah yang dianggap kiblat muslim diseluruh dunia, telah mengharamkan Valentine bagi umat Islam karena dinilai sebagai perayaan kaum Kristen yang penuh kekufuran. Padahal dengan alasan yang tidak jelas, umat Islam di Indonesia (pada umumnya) sebagai negara pemeluk Islam terbanyak di dunia, telah menjadikan Valentine sebagai bahagian yang mesti dirayakan setiap tahunnya (khususnya bagi para remaja).
Dari berbagai macam warna dan bentuk aktualisasi perayaan Valentine diseluruh penjuru dunia, Islam justru hadir sebagai institusi yang menolak perayaan Valentine tersebut. Arab Saudi misalnya, sebagai wilayah yang dianggap kiblat muslim diseluruh dunia, telah mengharamkan Valentine bagi umat Islam karena dinilai sebagai perayaan kaum Kristen yang penuh kekufuran. Padahal dengan alasan yang tidak jelas, umat Islam di Indonesia (pada umumnya) sebagai negara pemeluk Islam terbanyak di dunia, telah menjadikan Valentine sebagai bahagian yang mesti dirayakan setiap tahunnya (khususnya bagi para remaja).Barangkali ada benarnya “falsafah konyol” yang menyebutkan “hukum dibuat untuk dilanggar”, sehingga dengan serta merta Valentine yang telah di klaim “haram” bagi pemeluk Islam begitu leluasa mengakrabkan diri . Agaknya syariat kurang berlaku dalam tataran ini. Atau justru syariat memang tak lebih dari seperangkat aturan yang terikat ruang dan waktu, serta terkungkung keadaan tertentu, sehingga perayaan Valentine boleh jadi “berganti wajah” dalam perspektif hukum Islam sesuai dengan keadaannya. Sebagaimana pembelaan pemikir rasional, bahwa tidak ada statement yang qathi (jelas) didalam al-Qur’an maupun hadits terhadap pelarangan perayaan Valentine, sekalipun itu budaya yang tidak lahir dari Islam itu sendiri.
Melihat kenyataan bahwa perayaan Valentine semakin subur ditengah masyarakat Islam (Indonesia khusunya), agaknya syariat memang perlu menghadirkan sebuah argumentasi baru yang lebih memiliki makna generik serta terlepas dari sikap eksklusif yang menekankan prinsip bahwa Valentine lahir dari ajaran Kristen. Dengan kata lain, sungguhpun tidak ditemukan literatur lain selain literatur Kristen yang mampu menghantarkan sejarah Valentine, dan hal ini menandakan bahwa Valentine tidak dapat dibantah sebagai budaya yang datang dari ajaran Kristen, tetap saja ada nilai eksklusif yang akan lahir jika Islam menolak perayaan tersebut dengan alasan ini.
Barangkali, alasan yang lebih rasional dan universal untuk menolak perayaan Valentine bagi umat Islam adalah dengan mengajukan pertanyaan: untuk apa Valentine dirayakan?; cukup beralasankah 14 Februari dideklarasikan sebagai hari kasih sayang?. Maka pertanyaan ini dengan sendirinya akan menghadirkan jawaban bahwa Valentine tidak lain diperingati untuk mengenang santo Valentinus yang hanya ada dalam kayakinan Kristen. Oleh karenanya, kurang tepat jika Valentine dirayakan umat Islam dengan alasan turut merayakan hari kasih sayang. Padahal, Kristen sendri sebagai institusi yang memulai propaganda perayaan tersebut, pernah menghapuskan penanggalan ini dari kalender gereja dengan alasan sejarah yang tidak jelas. Naif sekali jika umat Islam yang notabenenya “ikut-ilutan” justru menjadi vigur yang paling “getol” merayakan Valentine tersebut.
Penutup.
Di Jepang Valentine dirayakan sebagai propaganda marketting secara besar-besaran. Orang Prancis dan Australia mungkin punya alasan sendiri untuk merayakan Valentine. Tapi yang sulit dimengerti adalah si “Fulan” penduduk asli Indonesia, dengan biaya yang cukup mahal turut mengemas kado istimewa untuk dipersembahkan kepada kekasihnya di tanggal 14 Februari. Apakah si “Fulan” juga punya alasan merayakan Valentine, atau justru menjadi korban ikut-ikutan?.
ARISTA ROMADANI (KMFM)
Tags: arista | 0 komentar
| 3dhanerz
diana g' punya cerita tp diana cuma bisa nambahin jam ini k blog kelas qt mga semuanya suka m jam ni
Tags: diana | 3 komentar
musibah melandaku,kawan
Senin, 01 Februari 2010 | 3dhanerz
kawan, tgl 2 pebruari, namaku n 1 temen cweku tercemar. sekarang kan dah banyak temenku yang nyediain jasa isi ulang pulsa. nah ada 4 no asing yang minta isi ulang pulsa ke mereka yang punya jasa itu. parahnya mereka mangataskan namaku n temen cweku tu. gilaaa!!! kurang ajar bgt tu orang. dan korbannya tu bukan 1 anak, tapi 3 anak 1 jurusan ma aku tapi beda kelas......
huff... semoga pelakunya segera tertangkap.... T.T
